Aksara Kawi yang telah masuk Unicode 15.0 dikembangkan sebagai logika encoding dan lapisan tambahan keamanan kode melalui prototipe Kawi58 berbasis representasi Base58.
Eksperimen Rony Lantip dalam Srawung Budaya dan Aksara Kawi 2026 di Malang menunjukkan warisan aksara Nusantara dapat memiliki fungsi teknis di era digital.
Selama ini, Aksara Kawi lebih banyak dipandang sebagai warisan budaya yang perlu didokumentasikan, diteliti, dan diajarkan kembali. Masuknya Kawi ke Unicode 15.0 pada 2022 membuka kemungkinan baru karena aksara tersebut dapat diproses langsung oleh perangkat digital.
Rony Lantip, pengembang AI dan keamanan siber, kemudian menguji struktur Aksara Kawi untuk kebutuhan encoding dan proteksi kode. Gagasan itu disampaikan dalam sesi Encryption from the Past: Melindungi Kode Modern dengan Logika Kawi.
Menurut kajian tersebut, terdapat tiga struktur Kawi yang memiliki kesejajaran dengan konsep pemrograman. Ketiganya ialah sistem abugida, klasifikasi konsonan, serta sandhangan sigeg.
Dalam sistem abugida, setiap konsonan dasar membawa vokal bawaan dan dapat diubah menggunakan sandhangan. Pola tersebut dinilai memiliki kemiripan dengan konsep base value yang dipengaruhi modifier flag dalam encoding.
Struktur konsonan Kawi juga tersusun berdasarkan sejumlah atribut, seperti tempat artikulasi, suara, dan aspirasi. Pola tersebut dapat dipandang sebagai bentuk keyspace dengan beberapa atribut.
Sementara itu, sandhangan sigeg berfungsi menandai konsonan mati pada akhir suku kata. Dalam konteks pemrograman, fungsi tersebut memiliki kesejajaran dengan tanda khusus yang mengubah cara data dibaca.
Dari struktur itu, Lantip mengembangkan tiga kemungkinan penerapan, yakni source code obfuscation, watermarking tersembunyi, dan custom encoding layer.
Pada source code obfuscation, kata kunci atau bagian tertentu dalam kode dapat direpresentasikan menggunakan Aksara Kawi. Cara tersebut membuat kode lebih sulit dibaca secara langsung oleh orang yang tidak memahami pemetaannya.
Penerapan lain berupa watermarking dapat digunakan untuk menyisipkan tanda kepemilikan berbasis Aksara Kawi dalam dokumen atau gambar. Sementara custom encoding layer menggunakan karakter Kawi sebagai alfabet untuk merepresentasikan data.
Salah satu eksperimen yang dikembangkan ialah Kawi58. Skema tersebut menggunakan 58 simbol mandiri dari blok Unicode Kawi sebagai alfabet, dengan mekanisme matematis yang mengikuti konsep Base58.
Kawi58 tidak mengubah proses kriptografi. Sistem tersebut hanya mengubah representasi rangkaian bytes menjadi teks menggunakan karakter Aksara Kawi.
Prototipe lain, kawirsa.py, menggabungkan Kawi58 dengan RSA 2048-bit. Kunci kriptografi disimpan melalui representasi Kawi, kemudian dikembalikan ke bentuk data asli untuk digunakan dalam proses penandatanganan dan verifikasi.
Eksperimen tersebut menunjukkan representasi Kawi dapat digunakan tanpa mengubah matematika RSA. Dengan demikian, Kawi berfungsi sebagai lapisan representasi, sedangkan keamanan kriptografinya tetap bergantung pada algoritma dan pengelolaan kunci.
Eksperimen berikutnya diterapkan pada sertifikat keaslian naskah. Sidik jari digital naskah dibuat menggunakan SHA-256, kemudian ditandatangani dengan RSA-PSS dan hasil tanda tangan direpresentasikan dalam Kawi58.
Ketika isi naskah diubah, proses verifikasi tanda tangan gagal. Eksperimen itu menunjukkan bentuk Kawi dapat menjadi bagian permanen dari artefak sertifikat tanpa menggantikan mekanisme kriptografi standar.
Namun, pendekatan tersebut memiliki batasan. Aksara Kawi tidak dapat dianggap sebagai pengganti enkripsi karena pemetaan yang diketahui pihak lain dapat dibalik dan dianalisis.
Kemampuan large language model membaca Aksara Kawi juga berpotensi mengurangi nilai perlindungan yang hanya mengandalkan ketidakakraban terhadap aksara tersebut.
Karena itu, pendekatan Kawi ditempatkan sebagai bagian dari defense in depth, bukan benteng keamanan tunggal. Implementasinya tetap perlu dikombinasikan dengan enkripsi, manajemen kunci, serta audit keamanan standar.
Gagasan tersebut memiliki preseden melalui SAWA, proyek open source yang memungkinkan pemrograman Python menggunakan Aksara Jawa. Proyek itu menjadi bukti bahwa aksara Nusantara dapat digunakan sebagai sistem yang diproses mesin.
Bagi Lantip, perkembangan teknologi membuka ruang baru bagi pelestarian aksara Nusantara. Aksara Kawi tidak hanya dipertahankan sebagai objek sejarah, tetapi juga dapat diuji sebagai logika yang digunakan dalam teknologi modern.
Eksperimen tersebut sekaligus membuka ruang penelitian bagi akademisi, peneliti linguistik, praktisi teknologi, dan komunitas aksara. Kajian lanjutan diperlukan untuk menguji keamanan, efektivitas, serta ketepatan penggunaan struktur Kawi dalam sistem digital.
Gagasan itu menunjukkan bahwa pelestarian aksara tidak harus berhenti pada dokumentasi dan pengajaran. Menghadirkan Aksara Kawi dalam teknologi dapat menjadi salah satu cara menjaga relevansinya bagi generasi digital.